KERASULAN KITAB SUCI


Jalan dan pintu masuk ke Kitab Suci harus terbuka lebar-lebar bagi umat beriman ”,demikian Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Dogmatis Dei Verbum, art.22.

Setelah Konsili Vatikan II ada banyak hal yang telah dikerjakan, tetapi kita perlu melihat dan merefleksikan kembali apa yang telah kita kerjakan dalam bidang Kerasulan Kitab Suci serta membuat tekad untuk meningkatkan dan menyempurnakan akan hal yang begitu penting dan mendasar untuk kehidupan dan pembaharuan Gereja.

Di bawah ini kita mau mulai memikirkan beberapa soal yang berhubungan dengan pengembanan tugas pelayanan Kerasulan Kitab Suci di Paroki.

Soal-soal yang akan kita bicarakan adalah tentang kesadaran akan hakekat dan arti atau peranan Kitab Suci dalam hidup Gereja, jalan/cara dan sarana dari pelayanan KKS khususnya untuk pembinaan animator/fasilitator  lingkungan, serta usaha-usaha apa saja yang harus dikerjakan.

KESADARAN tentang HAKEKAT dan ARTI KITAB SUCI

Tidak mungkin kita dengan giat mengusahakan sesuatu hal apabila kita tidak meyakini hakekat dan nilai dari apa yang dikerjakan.

Hal ini harus menjadi bagian dari hidup kita dan bukan sesuatu yang ditempelkan dari luar.

Kitab suci kita imani sebagai Sabda Allah dalam bahasa manusia atau Sabda Allah yang tertulis.

Apa yang kita imani ini benar,akan tetapi pengertian orang tentang arti “sabda Allah” tidak selalu cukup tepat sehingga kerap mengalami kesukaran dalam menghadapi Kitab Suci pada waktu membaca.

Apabila kekurangtepatan ini terjadi maka hal itu pasti akan berpengaruh besar dalam karya dan pewartaan kita.

Demi suatu pergaulan yang lebih hidup dengan Kitab Suci dan yang sekaligus membawa kita ke suatu pengertian yang lebih tepat tentang arti sabda Allah dalam bahasa manusia itu,maka Kitab Suci hendaknya kita lihat sebagai buku kehidupan yang menyaksikan karya dan sabda Allah dalam kehidupan manusia dan jawaban manusia dalam penghayatan hidupnya sehari-hari.

TUJUAN KERASULAN KITAB SUCI

Yang menjadi tujuan dari Kerasulan Kitab Suci adalah supaya orang belajar menimba, menumbuhkan dan membuahkan anugerah kasih dari salah satu sumber yang paling murni dan sejati dari hidup Kristen (bdk LG,art.42).

Umat hendaknya belajar berdoa dari Kitab Suci karena telah belajar “pengenalan akan Yesus Kristus yang melampaui segala sesuatu” (Flp 3,8).Dengan pergaulan yang akrab dengan Kitab Suci,mereka belajar “minum dari rohnya” (DV.art.25)

Namun tujuan yang luhur ini tak dapat dicapai dalam waktu yang singkat dan sekaligus tetapi haruslah dijalankan secara bertahap, baik itu karena kesukaran Kitab Suci maupun karena keanekaragaman daya tangkap dan perkembangan iman umat.

Oleh karena itu kita harus membedakan kerasulan Kitab Suci atas dua tahap dan dimensi,yakni ;

1. Kerasulan tentang Kitab Suci

2. Kerasulan dengan Kitab Suci

Kerasulan tentang Kitab Suci adalah segala kegiatan yang berbentuk penyediaan / pengadaan Kitab Suci seperti buku-buku tafsiran, sarana-sarana audiovisual dan yang semacam itu serta segala kegiatan dan usaha informatif tentang Kitab Suci (kursus).

Kerasulan dengan Kitab Suci,artinya kerasulan yang memperhatikan dimensi penggunaan Kitab Suci dalam segala bidang kehidupan dan kerasulan Gereja agar segala-galanya diilhami,diterangi dan digerakkan oleh sabda Allah.

Yang termasuk dalam kerasulan ini adalah kerasulan pembinaan, yakni menatar dan membina orang bagaimana menggunakan Kitab Suci agar menjadi pengilham, terang, penggerak kehidupan, kerasulan dan segala kegiatan lainnya.

Kerasulan Kitab Suci pada akhirnya harus membina orang, yang karena mampu menerima dan menghayati Sabda dengan tepat maka ia dapat menjadi pewarta Sabda atau nabi:”Ah,kalau seluruh umat Tuhan menjadi nabi, oleh karena Tuhan memberikan RohNya hinggap kepada mereka.”(Bil 11,29).

PEMBINAAN

Untuk menjadikan Kitab Suci itu terbuka lebar bagi umat dan menjadi santapan kehidupan baik itu secara bersama maupun pribadi,maka perlulah dilakukan pembinaan.

Dalam hal ini ketua wilayah, ketua lingkungan, guru dan kaum muda dapat menjadi sasaran utama dalam pembinaan ini.

Apa yang dapat kita kerjakan ?

1.Renungan singkat

berarti dan mengandaikan bahwa orang menyampaikan hanya satu soal/hal.

Ada macam-macam teknik renungan singkat misalnya dengan mengemukakan satu contoh tokoh dari Kitab Suci yakni tentang satu perbuatannya dalam satu peristiwa ; merenungkan satu hukum Perjanjian Lama yang masih aktual dan berbicara sekarang karena kesegaran dan tantangannya ; merenungkan suatu peribahasa , amsal ,ucapan dari Kitab Suci; menunjukkan suatu kebajikan dengan menceritakan seorang tokoh dari Kitab Suci.

Teknik-teknik ini meskipun sederhana mengandaikan sedikit pengetahuan dan penguasaan Kitab Suci.

Maka perlu diberikan kursus informatif tentang Kitab Suci.

Kapan kita menggunakan teknik yang mengemukakan satu contoh perbuatan seorang tokoh dalam Kitab Suci?

Terutama untuk merenungkan kekurangan dan kesalahan kita.

Tekniknya ialah dengan menunjukkan kekurangan yang ada pada kita sebagai titik tolak, kemudian mengemukakan contoh dari Kitab Suci dengan menunjukkan akibat perbuatan itu dan akhirnya dengan menarik kesimpulan apa yang harus kita perbuat. Contoh latihan : Yos 9,1-18 ; 2 Raj 5, 20-27.

Merenungkan salah satu hukum atau peribahasa juga sangat bermanfaat  tetapi hukum dan peribahasa itu harus bersifat tantangan, aktual karena menyentuh persoalan dan kehidupan sekarang.Tekniknya ?

Pertama, perlu dilihat arti hukum atau peribahasa itu dan mengapa dianggap penting atau apa yang mau dicapai dan dikatakan oleh hukum atau peribahasa itu ; kemudian dapat dilihat apakah yang dikatakan Kristus atau PB tentang hal itu dan akhirnya menanyakan apa artinya hukum atau peribahasa itu apabila dilaksanakan atau ditinggalkan.

Contoh soal yang menarik : Ul 24,5 ; 15,12-18 ; Ams 27,5.

Jauh lebih sukar menunjukkan kebaikan melalui contoh Alkitabiah, karena di sini dituntut kemampuan bercerita dan bagaimana memperkenalkan seorang tokoh alkitabiah. Perlu latihan yang berulang-ulang karena kemampuan bercerita sangat minim.

Tentu saja si pemberi renungan perlu dibina secara berkala tentang Kitab Suci agar mereka memiliki dasar-dasar yang lebih kuat dan selalu disegarkan.

Perlu diajarkan pula bagaimana orang berdoa dari Kitab Suci dan kalau dapat setahun atau dua tahun sekali diadakan retret alkitabiah selama dua atau tiga hari.

MEMAJUKAN KELOMPOK-KELOMPOK KITAB SUCI

Banyak persoalan yang harus dipikirkan untuk membentuk kelompok Kitab Suci  dapat terus berjalan dengan baik ;

1.Bagaimana menunjukkan nilai Kitab   Suci untuk penghayatan iman dan perkembangan Gereja ?

2.Bagaimana memberikan motivasi kepada umat untuk membentuk kelompok-kelompok Kitab Suci ?

3.Bagaimana menggerakkan dan terus memajukan kelompok-kelompok ini ?

4.Bagaimana terus membangkitkan minat untuk pendalaman Kitab Suci ?

Kita hanya dapat memberikan motivasi yang kuat kepada umat untuk membentuk kelompok Kitab Suci apabila kepada mereka ditunjukkan bahwa sabda Allah adalah santapan kehidupan orang beriman atau dengan kata lain bahwa Kitab Suci dapat memberi pertolongan yang luar biasa kepada mereka untuk menghayati hidup mereka sebagai orang Kristen, menjadi terang dan penopang dalam melaksanakan tugas-tugas mereka dan membuka wawasan-wawasan baru yang tak terduga dalam hidup mereka.

Tetapi bagaimana kita dapat menunjukkan arti sabda Allah ini dan dapat menggerakkan mereka ?

Dengan dasar tahu menggunakan Kitab Suci maka akan lebih mudah menggerakkan umat dalam menggunakan Kitab Suci dalam hidup dan kegiatan mereka.

Supaya kelompok-kelompok Kitab Suci dapat berjalan perlu sekali adanya penggerak-penggerak.

Dalam hal ini para penggerak perlu sekali mengadakan pertemuan berkala antara mereka untuk mendorong dan terus menerus menyegarkan mereka dengan pengetahuan tentang Kitab Suci.

Akhir-akhir ini diterbitkan cukup banyak buku tentang bagaimana mengadakan kelompok-kelompok KitabSuci.

Ada banyak metode dan para penggerak harus ditatar dalam hal ini.

Prinsip-prinsip dasar yang perlu diperhatikan oleh setiap kelompok Kitab Suci/di Lingkungan :

1.Tujuan dari setiap kelompok Kitab Suci ialah pendalaman iman agar kita belajar berdoa dan hidup dari sabda Allah, berjumpa dan bergaul dengan Allah dalam peristiwa-peristiwa hidup kita sehari-hari.

2.Kelompok Kitab Suci dapat bersifat kelompok studi KS dan kelompok doa KS, keduanya tak dapat dipisahkan satu sama lain. Pembedaan ini hanya dalam soal penekanannya.

3.Studi dalam kelompok studi Kitab Suci tidak mempunyai tujuan dalam dirinya sendiri artinya bukan untuk menambah pengetahuan tentang Kitab Suci tetapi untuk membuka atau membeberkan cara berpikir dan hidup kita yang selalu berpusat pada diri sendiri dan bukan pada Allah dan rahasia-rahasia-Nya serta kepada sesama.

Memperdalam pengetahuan dan pengertian kita tentang Kitab Suci harus bermuara kepada doa dan perbuatan, maka pertemuan harus dibuka dan ditutup dengan doa, diselang seling dengan nyanyian rohani yang sesuai dan ada saat hening untuk menanyakan apa yang harus dikerjakan berdasarkan pesan teks KS yang baru dilihat dan dibahas bersama.

4.Dalam kelompok doa KS juga perlu ada pendalaman secara bersama tentang apa sebenarnya maksud dan arti dari teks yang bersangkutan.Ini perlu agar orang tidak jatuh ke dalam kedangkalan dan hanya perasaan dan agar cara berpikir kita diubah menurut cara berpikir Allah.(dk Mrk 8:33).

Injil menyampaikan berita yang memutar balikkan segala pikiran manusia dan hal ini perlu dilihat dan disadari sungguh-sungguh.

5.Sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta hendaknya dipilih tema-tema atau pesan-pesan pokok iman kita seperti:

Mazmur, Nabi-Nabi, Pengharapan.

Siapakah Yesus Kristus menurut masing-masing Injil, perumpamaan tentang kerajaan Surga, mukjizat-mukjizat, hal kemuridan, Gereja, Kerasulan,dsb.

6.Perlu ada variasi misalnya sesekali membaca dari awal sampai akhir salah satu buku yang pendek dengan macam-macam cara, diselingi dengan nyanyian dan ditutup dengan doa.

Buku-buku itu misalnya ;

Rut, Yunus, Surat-surat para Rasul yang pendek.

Pembacaan ini akan sangat menolong,baik dalam pengertian maupun cinta akan Kitab Suci.

Demikianlah satu dua catatan tentang beberapa jalan pokok untuk Kerasulan Kitab Suci khususnya di Paroki.

disusun kembali dari :

“IMAM DAN KERASULAN KITAB SUCI”

oleh : Dr.B.A.Pareira O.Carm

Recent Posts :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s