Belajar dari Perumpamaan-Perumpamaan Yesus


Materi bulan Kitab Suci 2011 – lingkup Keuskupan Agung Jakarta

Sub-tema 1 :

Orang Samaria yang baik hati – Luk 10 : 25 – 37

Pengantar teks :

Membalas kasih Allah dengan perbuatan kasih nyata kepada sesama karena menyadari semua yang kita miliki adalah berasal dari Allah. Namun bagi orang yang berada dalam situasi masyarakat heterogen, individualistis dan yang mudah terkotak-kotak, masih dapatkah berbelas kasih kepada sesama ? Siapakah sesama yang dimaksudkan Yesus dan apa yang dikehendaki Yesus untuk para pengikut-Nya?

Mari kita melihat apa yang disampaikan Yesus kepada ahli Taurat  tentang perumpamaan “Orang Samaria yang baik hati”

Ahli Taurat :

–          Memiliki derajat yang tinggi di kalangan Yahudi

–          Hanya berpedoman dengan Hukum Taurat

–          Para ahli Taurat sudah mengungkung dirinya dalam sebuah system yang menjadikan mereka berpikiran sempit dan cenderung hanya memikirkan diri sendiri beserta kelompoknya karena memang sesama dalam ajaran dan pandangan orang Yahudi adalah mereka yang berasal dari suku, agama dan kelompok yang sama.

–          Kedatangan Yesus menjadi gangguan buat mereka karena Yesus sering mengkritik.

–          Mereka sudah merasa hidupnya benar dan ditambah lagi menjadi terhormat di kalangannya, sehingga akhirnya berusaha mencari pembenaran diri  dengan bertanya kepada Yesus : “siapakah sesamaku manusia?

Lalu bagaimana dengan Yesus? siapakah sesama menurut Yesus?

Yesus :

–          Seluruh pengajaran Yesus hanya tertuang dalam dua perintah utama, yaitu supaya setiap pengikut-Nya mengasihi Tuhan dan sesama untuk memperoleh hidup kekal.

–          Pemaparan perumpamaan tentang “orang Samaria yang baik hati” oleh Yesus  sudah sangat jelas mengkritik sikap dan pemikiran ahli Taurat yang terkesan egois.

–          Yesus mengangkat tokoh orang Samaria yang selalu dianggap rendah tapi justru dia berani dan memiliki belas kasihan serta mengerti mana yang menjadi prioritas.

            TOKOH YANG DIPAPARKAN YESUS : Orang Samaria

–          Menurut pandangan Yahudi , orang  Samaria adalah yang berasal dari suku yang tidak diperhitungkan dan mempunyai derajat yang lebih rendah dari pada seorang Yahudi

–          Meskipun demikian  ia mempunyai kepekaan hati dan belas kasihan melebihi jauh dari ahli Taurat dan orang Lewi yang sangat mengerti agama Yahudi.

–          Perikemanusiaannya melampaui daya pikir akan resiko yang mengancamnya karena Yerikho adalah tempat yang rawan akan tindak kejahatan

–          Tulus/tanpa pamrih, yang tampak pada tindakannya yang rela membalut luka orang tersebut.

–          Penuh pengorbanan moril materil dan tanpa batasan karena nyawanya pun menjadi taruhan.

–          Membantu sampai tuntas / tidak setengah-setengah meskipun tidak mengenal orang yang ditolong.

Perumpamaan ini sering membuat orang bertanya pada dirinya sendiri, “apakah mungkin aku dapat melakukan seperti halnya orang Samaria itu?”

Sebuah cerita yang sungguh terjadi di bawah sebuah jembatan layang di Jakarta :

Seseorang  mengendarai mobilnya pada malam hari melewati bawah sebuah jembatan layang  yang biasanya ketika malam hari sangat sepi dan agak gelap. Ternyata di sana sudah menunggu beberapa orang yang kemudian  merampok harta bendanya. Korban perampokan secara spontan melakukan perlawanan namun akhirnya menjadikannya tak berdaya dan ditinggal pergi oleh para perampok.

Selang berapa waktu lewatlah seorang pedagang keliling mengendarai sepedanya. Melihat ada orang yang terkapar berlumuran darah,  serta merta ia pun memberikan pertolongan.

Ironisnya jari tangan korban rampok tersebut, semuanya sudah putus ditebas oleh perampok dan itu dikumpulkan oleh si penolong lalu dimasukkan dalam kantong plastik dan bersama korban segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Berkat kesigapan si penolong maupun pihak rumah sakit yang segera melakukan operasi, korban tertolong meskipun hasilnya tidak terlalu sempurna namun korban tetap dapat melakukan kegiatannya lagi seperti biasa.(cerita dari seseorang)

Dari kejadian ini, si penolong adalah pedagang keliling yang sering kurang mendapat perhatian.Resiko yang dia hadapi ketika memberikan pertolongan adalah dia sendiri dapat menjadi salah satu tertuduh pelaku perampokan tapi ia menolong tanpa banyak pertimbangan.Hal ini ia lakukan semata karena belas kasihan dan rasa perikemanusiaan.

Mendengar kejadian itu tentunya tidak semua orang memiliki keberanian yang sama, ini bukan berarti tidak peduli pada sesama namun demikian tetap dapat memberikan pertolongan seperti cerita berikut ini.

Seorang wartawan dari salah satu televisi di Jakarta berusaha ingin meliput kejadian bom Marriot namun tiba-tiba dia mendengar sebuah rintihan minta tolong dan ternyata berasal dari korban peledakan bom, spontan ia berteriak-teriak sambil berlari mencari pertolongan.

Ketika ia sudah meyakini bahwa sudah ada yang menolong, naluri wartawannya pun melanjutkan meliput kejadian itu kembali. (pernah ditayangkan dalam acara Kick Andy)

Ini bisa diandaikan pada banyak orang, yang kerap menghadapi dilema ketika menghadapi suatu kejadian sementara tugas yang sangat penting sudah menunggu atau karena memang takut menghadapi situasi seperti itu sehingga akhirnya memilih untuk meninggalkan begitu saja dengan berandai bahwa nanti juga banyak yang menolong.

Cerita bom Marriot ini  mungkin dapat menjawab dilema tersebut  dalam kondisi tertentu, yang terpenting adalah korban sudah dipastikan mendapat pertolongan, siapapun yang menolong tidak lagi menjadi persoalan.

Makna dari perumpamaan “orang Samaria yang baik hati” :

–          Melakukan apa yang dikendaki-Nya, dalam hal ini adalah “belas kasihan”

–          Belas kasihan, tak dapat dibatasi pada perhatian saja

–          Perilaku belas kasihan tak terbatas pada kejadian di jalan tapi banyak sekali pertolongan yang dapat diberikan dalam hal lain di sekitar kita.

–          Lakukanlah dengan bijaksana.

Nanti akan dilanjutkan dengan sub-tema berikutnya.

Ini lanjutannya :

Subtema ke 2 BKS 2011 : Perumpamaan anak yang hilang (Luk 15 : 11 – 32)

Recent Posts :

6 thoughts on “Belajar dari Perumpamaan-Perumpamaan Yesus”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s