Perumpamaan anak yang hilang


Subtema ke 2 – BKS 2011

(Lukas 15 : 11 – 32)

Kritikan dari orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang mempermasalahkan kedekatan Yesus dengan para pendosa ditanggapi  oleh Yesus dalam 3 perumpamaan-Nya,  yakni : domba yang hilang , dirham yang hilang dan anak yang hilang.

Namun kisah anak yang hilang memiliki  keunikan dibandingkan kedua perumpamaan lain dimana proses hilang karena jatuh dalam dosa dan kembalinya si pendosa  mendapatkan  penolakan.

Kenangan masa kecil yang tidak dapat saya lupakan ketika saya dan teman-teman setiap malam di musim kemarau berkumpul dan tiduran beralaskan tikar dan selimut di suatu halaman yang luas, dan dengan antusias mendengarkan cerita dari ibu-ibu yang  bergiliran bercerita tentang wayang : Rama dan Sinta, Perang Baratayuda, ketoprak, dunia binatang dan masih banyak lagi.

Pada setiap akhir cerita, si pencerita  selalu menekankan bahwa kejahatan pasti kalah dari kebaikan.Sayang sekali kebiasaan yang baik tersebut  sudah jarang atau tidak ditemukan lagi pada zaman globalisasi sekarang ini. Para ibu sibuk bekerja membantu perekonomian keluarga atau menonton sinetron yang entah sampai episode berapa berakhirnya atau kesibukan lainnya. Sementara si anak asyik dengan dunianya sendiri ; duduk manis di depan komputer ber-facebook, chatting, mendengarkan musik?

Dalam perumpamaan tentang anak yang hilang ini, Yesus hendak  memperlihatkan kepada  kita para murid dan sahabat-Nya tentang drama kehidupan dalam hubungan dengan sesama.

Anak  bungsu :

Dunia luar ternyata sungguh sangat menarik, menawarkan banyak kemewahan dan kenikmatan yang memabukkan siapa saja. Untuk memenuhi/menanggapi tawaran tersebut si bungsu menjadi BERANI meminta “hak” yang belum menjadi haknya dan meninggalkan “rumah” yang telah memberikan kesejukan, keamanan dan kedamaian baginya.Padahal segala yang menarik itu ternyata penuh kepalsuan dan bersifat sementara. Ada uang maka ada persahabatan sebaliknya tak ada uang entah ke mana perginya persahabatan, si bungsupun ditinggal sendiri.

Dalam kesendiriannya  terjadilah konflik batin yang luar biasa : marah karena menyadari kebodohannya, kecewa karena tidak mendengarkan “nasehat” sebelum ia pergi meninggalkan rumah, malu karena menyadari kegagalannya. Konflik batin sudah mencapai  titik puncaknya dimana ia sendiri tak sanggup lagi menanggung, oleh karenanya ia bersikap pasrah.

Kepasrahan memaksanya  untuk mengakui segala kebodohannya dan menyadarkan bahwa rumah ayahnya adalah yang terbaik untuknya .Berbekal dengan pengalaman pahit itu ia bangkit, berdiri dan berlari kembali ke “rumah”. Sekalipun ia menyadari bahwa ia sudah tidak mempunyai hak atas “rumah” itu namun ia masih berharap untuk diterima sebagai pelayan ayahnya.Tetapi apa yang dia terima ?

Sang ayah :

Sang ayah sudah banyak makan asam garam, sangat mengetahui bagaimana jahatnya dunia luar terutama bagi anaknya yang masih tergolong belia namun ia senantiasa berdoa dan menantikan si anak kembali ke pangkuannya. Maka ketika ia mendengar dan melihat si anak pulang, ia mampu melupakan segalanya , berlari menyongsong dan memeluk si anak dengan penuh kasih dan suka cita.

Menunjukkan rasa syukurnya, sang ayah mengadakan pesta dan mengajak seluruh handai taulan untuk turut bersuka cita menyambut kembalinya si bungsu.

Di sinilah puncak pesan yang ingin disampaikan Tuhan Yesus bahwa Bapa adalah Tuhan yang Maharahim berkenan mengampuni kita yang berani bertobat ; mengakui , menyadari kesalahan dan kembali ke pangkuan-Nya yang hangat dan penuh kasih serta mau berjanji untuk hidup lebih baik.

Ternyata masalah tidak selesai sampai di situ saja, harapan sang ayah akan kembalinya si bungsu tidak cukup  melegakan hatinya. Apa lagi yang dihadapi sang ayah ?

Anak sulung :

Semula  sikap penuh ketaatan dan pengabdian selalu tampak dalam diri anak sulung. Namun kembalinya sang adik ,menguak sisi negatif perilakunya yang rupanya selama ini tersembunyi di balik ketaatan pada ayahnya.Rasa iri hati  sudah membutakan akal sehat.Ia tak lagi dapat memandang suatu keadaan / permasalahan secara objektif dan cenderung berpikir negatif – tidak senang melihat orang lain senang. Sifat yang sungguh membahayakan dirinya sendiri dan orang lain seperti halnya Kain yang tega membunuh adiknya Habel.

Penyelenggaraan sebuah pesta besar  untuk menyambut sang adik , membiarkan dirinya dibebani pikiran yang melelahkan. Ia tak sudi  masuk ke ruang pesta  sebagai sikap penolakannya terhadap adiknya yang pendosa.

Hidup adalah pilihan dan setiap pilihan selalu ada konsekuensi nya .

Apakah kita ingin menjadi si sulung ?
Jika umat menolak pendosa yang mau bertobat, mereka sama saja dengan anak sulung yang masih harus ditunggu pertobatannya

Hidup “benar” sambil memandang hina , dia bukanlah abdi Allah. Seluruh pengabdian tak kan pernah tercapai jika tak ada kasih terhadap pendosa.

atau

ingin menjadi si bungsu yang bertobat ?

Kasih Allah adalah suatu anugerah,ketika kita sedang jauh meninggalkan-Nya, Allah tetap menunggu pertobatan kita karena Dia bukan Allah penghukum.

Untuk dapat hidup benar, maka  marilah kita selalu melekatkan diri kepada-Nya. Bukankah Tuhan Yesus bersabda : ” Aku adalah pokok anggur dan engkau ranting-rantingnya?”

Lanjut ke subtema ke-3  BKS 2011:Perumpamaan lalang dan gandum

Recent Posts :

3 thoughts on “Perumpamaan anak yang hilang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s