Perumpamaan tentang Pengampunan


Subtema ke-4 BKS 2011 – (Mat 18 : 21 – 35)

Mengampuni tidak sama dengan melupakan tapi lebih dari memaafkan yakni melepaskan semua perasaan sakit hati. Tapi mengapa ada orang yang sulit mengampuni dan ada orang lebih mudah mengampuni ?

Dua hal yang dialami manusia yakni  dibenci dan membenci

Adalah Petrus yang mempertanyakan kepada Yesus tentang berapa kali seorang harus mengampuni sesama yang bersalah kepadanya dan jawaban Yesus sungguh mengejutkan karena pengampunan harus diberikan tujuh puluh kali tujuh kali.

Lalu Yesus  memberi perumpamaan tentang seorang Raja yang mengampuni hutang hambanya tetapi hamba itu tidak dapat mengampuni temannya yang berhutang jauh lebih kecil dari padanya. Betapa egoisnya si hamba tersebut dan hati temannya pun terluka karena tidak diberi kelonggaran sedikitpun.

Hutang yang dihapuskan dalam perumpamaan ini tidak terbatas pada uang tapi cermin dari segala hal yang membuahkan dosa. Mengumbar kemarahan dan sakit hati padahal dia sendiri pernah berbuat kesalahan lebih besar dari pada itu dan sudah diampuni Tuhan.

Tuhan sudah lebih dulu mengampuni, tapi mengapa manusia masih sulit melakukannya?

Pengampunan terjadi karena adanya usaha untuk memahami keadaan orang yang bersangkutan

dan pesan Yesus ;  “Akulah pokok anggur dan kamu rantingnya”. Jika terus melekat dan mengandalkan Tuhan maka sebagai manusia pasti dapat melakukannya karena pengampunan membutuhkan rahmat Allah terus menerus untuk dapat mengampuni sesama tanpa batas karena perasaan marah/benci akan terus muncul kembali.

Pesan yang mau disampaikan dalam perumpamaan ini  :

–       Pengampunan yang tulus merupakan pancaran dari pengampunan Bapa. Jika Tuhan terus menerus memberi pengampunan maka pengampunan kepada sesamapun tak ada batasnya. Kesadaran ini menyingkirkan kita dari mental “do ut des” yaitu mengampuni supaya diampuni.

–       Terimalah Roh kudus.. jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada. (Yoh 20:23)  Sepenuhnya mengandalkan Tuhan, melakukan instropeksi diri sehingga tidak mudah mencerca bahkan menghakimi orang lain. Pengampunan itu penuh kuasa, dengan mengampuni segalanya akan lebih baik.

Perasaan benci jangan ditumpuk karena tidak akan menyelesaikan masalah bahkan menambah masalah. Segera atasi sedini mungkin karena perasaan benci akan mengganggu aktifitas dan bahkan menjadi penyakit seperti  yang dialami seorang biarawati berikut ini :

Seorang biarawati yang sedang berkarya di Kupang-NTB berusia kurang lebih 37 tahun, divonis dokter menderita Kanker Payudara stadium 1B. Selama lebih 1 tahun ia berusaha minum obat-obatan tradisional lalu kemudian ketika melakukan pemeriksaan lanjut, stadium meningkat menjadi 2B.

Seorang Suster yang sangat percaya bahwa ini adalah kehendak Tuhan dan mengerti bahwa ada kehendak bebas baginya. Ia mencoba untuk memahami dari sudut spiritual bahwa ia dapat sembuh dari penyakitnya ini. Setelah konsultasi dengan Romo Yohanes, menyadarkannya bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam dirinya yakni masalah hati.

Meskipun ia adalah seorang Suster tapi segala perasaan disakiti di masa lalu masih terus terbawa. Masa-masa yang menyedihkan hatinya ketika ayahnya mengkhianati ibunya, 2 kakaknya dan ia sendiri. Mereka diusir dari rumah yang sudah mereka tempati bersama selama bertahun-tahun, lalu sang ayah menempati rumah itu dengan seorang wanita. Sejak itu ibunya sakit-sakitan dan akhirnya meninggalkan mereka selama-lamanya yang membuat ia memendam perasaan benci terhadap sang ayah.

Ya, mungkin itulah sumber dari penyakitnya selama ini. Meyakini hal itu, suster meminta cuti selama 6 bulan pada Suster provincial untuk menengok dan merawat sang ayah karena ia mendengar ayahnya terkena stroke.

Selama 6 bulan itu ia merawat sang ayah dengan penuh cinta kasih yang tulus dan selama itu pula ia tidak minum obat apapun.

Selesai masa cuti dan sebelum kembali ke Kupang, ia kembali melakukan check up ke rumah sakit. Melihat hasil check up, dokter yang merawatnya selama ini sangat merasa heran karena semua hasil pemeriksaan darah maupun USG adalah negatif. Lalu sang dokter bertanya : “Suster minum obat apa selama ini?” “saya tidak minum obat apa-apa selain obat PENGAMPUNAN”, jawab Suster.

“Apa maksud Suster?” tanya dokter, lalu Suster itu menceritakan semua yang dia alami dan apa yang kemudian telah ia lakukan. Mendengar itu, dokter berkata : “wah kalau begitu kepada semua pasien saya yang menderita kanker akan saya tanyakan apakah anda memilki perasaan dendam dan benci terhadap seseorang? Kalau jawabannya ya akan saya suruh berdamai dan mengampuni seperti Suster.”

(Kesaksian, diceritakan kembali dari sumber : Sr. Marietha CBhttp://indonesia.heartnsouls.com)

Artikel terkait : Pertobatan – Pengampunan – Rekonsiliasi

Recent Posts :

3 thoughts on “Perumpamaan tentang Pengampunan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s