Ratu Ester


Ratu Ester

Kisah mengenai Ester dapat ditemukan dalam Kitab Perjanjian Lama terbagi menjadi Kitab Ester dan Tambahan Kitab Ester pada Deuterokanonika (Pada Kitab Suci bukan katolik, Deuterokanonika tidak ada)

Ester remaja adalah seorang perempuan berparas Elok. Nama kecilnya Hadasa. Sejak menjadi yatim piatu, ia diasuh oleh sepupunya Mordekhai bin Yair bin Simei bin Kish seorang suku Benyamin. Pada saat itu Raja Persia Ahasyweros telah memiliki permaisuri bernama Wasti yang elok rupanya, namun angkuh dan tidak menuruti kata raja; maka iapun diusir. Raja kemudian mencari dara muda menggantikan permaisuri Wasti. Ester memikat tidak hanya keelokannya tetapi juga sangat baik dan menimbulkan kasih saying bagi siapa saja yang melihatnya. Setelah menjadi ratu, Ester tidak berubah, ia tetap rendah hati, tetap menuruti perintah sepupunya untuk tidak mengatakan dia Yahudi. Ia tidak melupakan bangsanya dan warisan rohaninya. Ia tetap lembut seperti dahulu. Ketika mordekahi mendengar bahwa ada yang berkeinginan membunuh raja, ia menyampaikannya kepada Ester yang kemudian menyampaikannya kepada Raja, pengkhianat itupun diperintahkan untuk diganting.

 Raja Ahasyweros kemudian mengangkat Haman sebagai pembesar kerajaan, diatas pembesar2 lain dan memerintahkan semua agar tunduk dan sujud kepada Haman. Mordekhai tidak mau sujud, baginya hanya kepada Allah Israel dia bersujud. Panaslah hati Haman, Haman merasa hina jika hanya membunuh Mordekhai, ia berikhtiar membunuh bangsa Mordekhai, bangsa Yahudi. Pada saat beroleh kesempatan, Haman mengatakan sebuah muslihat kepada raja, bahwa dalam kerajaannya, terdapatlah sebuah bangsa yang tercerai berai dan terasing dari bangsa lainnya, bangsa tersebut memiliki hokum yang berlainan dengan bangsa lain dalam kerajaan itu dan hokum kerajaan tidak berlaku bagi bangsa itu, tidak patut bagi raja membiarkan bangsa tersebut leluasa. Katanya lagi, hendaklah raja mengeluarkan titah untuk membinasakan bangsa tersebut,  sebagai imbalan ia akan member sepuluh ribu talenta perak kepada tiap pejabat yang melakukannya dan menyerahkan kepada raja. Raja hanya mengatakan mengenai perak dan perlakuan terhadap bangsa tersebut terserah kepada Haman.

Terjadilah pembantaian terhadap Yahudi dan seluruh Yahudi di negeri itupun berkabung, termasuk Mordekhai. Namun ratu Ester tidak tahu. Diutuslah Hattah menemui Mordekhai untuk mencari tahu penyebabnya. Mordekhai melalui Hatah kemudian meminta agar ratu Ester memohon kepada raja untuk membela bangsanya. Ratu Ester awalnya menolak, karena terikat peraturan, bahwa tidak seorangpun boleh bertemu raja, kecuali diminta oleh raja, pelnggarnya dihukum mati. Namun Mordekhai meyakinkannya, jika Ester menolak, mungkin pihak lain yang akan menolong mereka, dan Ester akan turut binasa walaupun ia ratu, bisa jadi Ester menjadi ratu, karena rencana Allah, dialah yang akan digunakan untuk menolong Yahudi. mendengar ini, ratu Ester meminta kepada Mordekhai melalui Hatah agar mengumpulkan semua orang Yahudi dan meminta mereka semua berpuasa tiga hari, ia, ratu Ester bersama dayang-dayang juga akan berpuasa dan tiga hari setelah itu ratu akan menghadap raja, meskipun itu berarti melanggar undang-undang dan akan dihukum mati.

Setelah berpuasa tiga hari, menghadaplah ratu Ester kepada raja Ahasyweros. Ketika ditanya apa keingingannya, jawabnya : jika raja berkenan, datanglah ia dan Haman ke perjamuan yang akan diadakannya bagi raja. Maka rajapun dating dalam perjamuan bersama Haman. Dalam perjamuan raja bertanya lagi, apapun keinginan ratu, ia akan mengabulkannya. Jawab ratu : ia menghendaki agar raja dan Haman  hadir dalam perjamuan yang akan diadakan bagi raja dan Haman, maka ia akan menuruti semua perintah raja. Mendapati perlakuan ini, diundang ke perjamuan menemani raja, Haman sangat senang. Namun ketika melihat Mordekhai lagi-lagi tidak mau sujud menyembahnya, panaslah ia. Para sahabat dan istrinya mengusulkan agar sebelum Haman pergi ke perjamuan bersama raja, Mordekhai sudah digantung sebgai persembahan bagi raja. Haman pun memerintahkan orang untuk menyiapkan tiang gantungan bagi Mordekhai

Haman, sebagai orang kedua dalam kerajaan, memiliki kekayaan, kemuliaan, kuasa, dan kedudukan luarbiasa, namun hal ini belumlah cukup baginya. Hatinya panas hanya masalah sepele, tidak dihormati Mordekhai. Sedangkan Mordekhai orang sederhana, hanya penjaga pintu istana, tetapi ia memiliki iman yang teguh kepada Allah. Ia taat sepenuhnya kepada Allah. Alas an Mordekhai tidak mau menyembah Haman, karena hanya Allah lah yang patut disembah, bukan karena ia mau menyombongkan diri tidak mau tunduk kepada Haman seperti dititahkan raja Ahasyweros.

Selanjunya ketika raja Ahasyweros mendengarkan catatan sejarah negrinya dibacakan. Terdapat nama Mordekhai, seorang yang berjasa karena telah memberitahukan dua prngkhianat yang akan membunuhnya, namun Mordekhai belum mendapat penghormatan yang layak atas jasanya. Ketika raja bertemu dengan Haman, yang ingin menggantung Mordekhai tapi belum sempat mengutarakan niatnya kepada raja, raja bertanya, apa yang seharusnya dilakukan terhadap orang yang raja berkenan menghormatinya. Haman mengira, raja hendak melakukan sesuatu demi menghormatinya. Jawabnya hendaknya diambil pakaian  kerajaan yang biasa dipakai oleh raja sendiri, dan lagi kuda  yang biasa dikendarai oleh raja sendiri dan pakaian itu dikenakan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya, kemudian hendaklah ia diarak dengan mengendarai kuda itu melalui lapangan kota sedang orang berseru-seru di depannya: Beginilah dilakukan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya!. Raja memerintahkan itu kepada Haman untuk Mordekhai. Haman pulang dengan sedih.

Dalam perjamuan yang dilakukan Ester bagi raja dan Haman, bertanyalah raja kepada Ester, apa keinginannya. Ester menginginkan nyawanya dan nyawa bangsanya, karena ia (Ester dan bangsanya) telah terjual untuk dibinasakan oleh Haman. Maka marahlah raja. Haman pun digantung di tiang gantungan yang dia perintahkan dibuat untuk menggantung Mordekhai. Raja kemudian mengaruniakan harta Haman kepada Ester dan Ester mengangkat Mordekhai menjadi kuasa atas harta milik Haman. Kemudian Ester memohon agar raja mengeluarkan titah untuk menarik surat yan berisi rancangan Haman bin Hamedatta, orang Agag itu. Raja mengatakan semua harta Haman diserahkan kepada Ester dan Haman telah digantung mati. Raja member otoritas untuk menulis atas nama raja apa yang menurut mereka baik dan memeteraikannya dengan cicin meterai raja. Mordekhai memerintahkan painter traja menulis pesan yang isinya : raja mengijinkan bangsa Yahudi membinasakan siapa saja yang berkeinginan membinasakan dan merampas harta mereka. Setelah mengetahui hal itu bangsa Yahudi pun bersorak sorai.

Pada Kitab Tambahan Ester tampak jelas bagaimana Mordekhai dan Ester ketika berpuasa tiga hari, berdoa sungguh-sungguh. Dikatakan pula bahwa sikap Mordekhai yang tidak mau sujud kepada Haman, bukan karena ia sombong apalagi menantang Haman, tetapi karena baginya hanya sujud menyembah Allah saja.

Dari kisah Ratu Ester ini, kita bisa mencontoh sikap Ratu Ester dan Mordekhai yang tetap taat kepada Allah. Ester sejak kecil hidup susah, yatim piatu, diasuh saudara sepupu, tentu bukan hal yang enak dan tidak sebebas di rumah sendiri diasuh orangtua sendiri. Selain berparas elok, Ester memiliki pribadi yang menyenangkan banyak orang, ia juga rendah hati dan penurut.  Posisinya sebagai ratu, bisa dikatakan kehendak Allah untuk menyelamatkan bangsanya yang tertindas. Ia berdoa dalam kesendiriannya dan dalam ketakutannya sambil berpuasa selama tiga hari. Namun ia percaya Allah pasti menolongnya. Sikapnya yang tidak frontal terhadap musuh bangsanya, Haman, juga bisa menjadi inspirasi. Kita murid Yesus Kristus juga dipilih untuk melayani sesame. Sebagai guru atau dosen diminta Tuhan untuk membebaskan murid atau mahasiswa dari keterbelakangan. Mentransfer ilmu yang dimiliki untuk anak didik. Bagi yang dipilih untuk menjabat posisi tinggi dimanapun berada, sebagai pemilik, direktur atau menajer, kita dituntut untuk bekerja agar perusahaan semakin maju dan karyawan semakin sejahtera. Ada banyak cotoh lain. Kita harus menjadi saksi Kristus dengan menjadikan diri contoh cara hidup yang benar. Rajin bekerja, tidak mencuri fasilitas kantor atau uang kantor, tidak menggelembungkan dana poyek, menjaga sopan santun dengan atasan atau bawahan. Dengan memiliki sifat baik dalam arti taat kepada Tuhan, lemah lembut, maka kitapun bisa disukai banyak orang. Kita menjadi saksi Kristus yang sebenarnya. Seperti Kristus juga lemah lembut. Ia bagai Anak Domba tak mengembik yang dikirim ke pembantaian. Tetapi Allah memuliakan-Nya. Kristus tidak akan membiarkan kita sendirian menjadi saksi-Nya, Roh Kudus menyertai kita, tidak jarang kita juga diberikan Tuhan teman untuk saling meneguhkan, seperti Ratu Ester dan sepupunya, Mordekhai. Jangan lupa untuk tetap sungguh berdoa dan ikut Ekaristi, disitulah kekuatan kita. Dalam Ekaristi kita dipersatukan dengan Kristus dan umat lainnya. Tubuh Kristus yang kita sambut merupakan kekuatan kita untuk berkarya, setiap hari sampai seminggu kemudian. Lebih indah lagi jika ikut Ekaristi harian. Maukah kita menjadi saksi Kristus yang lemah lembut sehingga disukai banyak orang dan tetap berdoa dengan sungguh?

Soek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s