Hana


Hana

Kisah nya terdapat dalam 1Sam 1:1-28, 1 Sam 2:1-10 (Nyanyian Pujian Hana) dan 1Sam 2:18-21

Hana adalah istri dari Elkana bin Yeroham bin Elihu Bin Tohu bin Zuf, seorang Efraim, yang memiliki dua istri, Hana dan Penina. Penina mempunyai anak, Hana tidak. Elkana setiap tahun mempersembahkan korban kepada Tuhan di Silo. Di hari Elkana mempersembahkan korban, diberinyalah Penina, anaknya laki-laki dan anaknya perempuan masing-masing sebagian. Dan meskipun ia mengasihi Hana, ia memberikan sebahian juga. Penina selalu mnyakiti hati Hana. Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu. Kemudian bernazarlah ia, katanya: “TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya .” Ia terus berdoa di hadapan TUHAN, sementara imam Eli mengamat-amati mulut perempuan itu; dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk. Kata Eli kepadanya: “Berapa lama lagi engkau berlaku sebagai orang mabuk? Lepaskanlah dirimu dari pada mabukmu.”. Hana menjawab: “Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN. Janganlah anggap hambamu ini seorang perempuan dursila; sebab karena besarnya cemas dan sakit hati aku berbicara demikian lama.” Jawab Eli: “Pergilah dengan selamat, dan Allah Israel akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta dari pada-Nya. ” Sesudah itu berkatalah perempuan itu: “Biarlah hambamu ini mendapat belas kasihan dari padamu. ” Lalu keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi. setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: “Aku telah memintanya dari pada TUHAN.”
Setelah cerai susu, Hana mempersembahkan Samuel kepada imam Eli, kata Hana: “Mohon bicara tuanku, demi tuanku hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri di sini dekat tuanku untuk berdoa kepada TUHAN. Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya. Maka akupun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN.” Lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada TUHAN.Lalu berdoalah Hana , bersyukur dan memuji muji Tuhan lihat 1 Sam 2:1-10.
Adapun Samuel menjadi pelayan di hadapan TUHAN; ia masih anak-anak, yang tubuhnya berlilitkan baju efod dari kain lenan. Setiap tahun ibunya membuatkan dia jubah kecil dan membawa jubah itu kepadanya, apabila ia bersama-sama suaminya pergi mempersembahkan korban sembelihan tahunan. Lalu Eli memberkati Elkana dan isterinya, katanya: “TUHAN kiranya memberikan keturunan kepadamu dari perempuan ini pengganti yang telah diserahkannya kepada TUHAN.” Sesudah itu pulanglah mereka ke tempat kediamannya. Dan TUHAN mengindahkan Hana, sehingga dia mengandung dan melahirkan tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan lagi. Sementara itu makin besarlah Samuel yang muda itu di hadapan TUHAN.

Dari kisah Hana kita bisa renungkan, bahwa Allah Bapa selalu memperhatikan manusia yang taat kepada-Nya. Apa yang menjadi permohonan, akan dikabulkan, selama tidak jemu memohon dan tetap percaya. Asalkan kita tidak mendikte Tuhan dengan permohonan Tuhan. Hana dalam memohon juga menazar kepada Allah, untuk mempersembahkan anaknya kepada Allah jika Allah mengabulkan doanya. Hana memohon dalam kesesakannya karena dihina madunya – Penina. Ia dianggap mandul. Saat itu (masih terjadi juga sekarang) orang yang mandul dianggap tidak diberkati Allah. Dalam doa syukur bersyukur dan memuji muji Tuhan (lihat 1 Sam 2:1-10) ketika Samuel dipersembahkan kepada Allah, disebutkan Allah memang adil kepada semua orang, yang baik, maupun yang jahat. Tetapi Allah tidak akan berdiam diri terhadap orang-orang taat yang berseru-seru mohon pertolongan-Nya, Ia akan memuliakan mereka, menang atas orang-orang yang menindas dan membalik keadaan.
Setelah itu setiap tahun Hana dan Elkana saat melakukan persembahan korban, mengunjungi Samuel, Hana membuatkan jubah kecil dan mengenakannya pada Samuel. Eli memberkati Hana dan Elkana, dan mengatakan sebagai ganti Samuel yang dipersembahkan kepada Allah, Hana akan memperoleh lagi 3 anak laki-laki dan 2 anak perempuan
Allah Maha Kasih, pandangan sekarang Allah tidak menghukum karena Allah Maha Kasih, tetapi harus diingat, hidup tidak bersama Allah, tidak akan selamat, tetap ada konsekuensi bagi manusia yang meninggalkan Allah. Terutama tegas dikatakan dalam Alkitab, pada kedatangan Yesus yang kedua, Ia akan menuai, memisahkan gandum dan ilalang. Gandum masuk lumbung, ilalang dibakar. Semakin berdosa, manusia akan semakin sulit sadar akan dosanya dan bahkan biasanya malahan terbalik, merasa diri sendiri paling saleh. Jika manusia masih sadar ia berdosa dan mau bertobat, itu sikap yang tepat. Kisah tentang Hana juga mengajarkan kita bagaimana harus menepati janji, apalagi janji kepada Allah. Jika janji itu ditepati, disertai rasa syukur dan pujian kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan lebih lagi dari pada yang kita minta.
Doa : Ya Allah yang Maha Rahim, ampunilah segala dosa kami, janganlah kiranya musuh-musuh-Mu berkuasa atas kami, lidungilah kami. Terimkasih karena Engkau selalu memberi lebih daripada yang kami mohon. Amin
Soek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s